GNN.COM, JAKARTA – Lagu Mimpi Yang Terbeli karya Iwan Fals, yang dirilis lebih dari 30 tahun lalu, masih relevan hingga hari ini. Liriknya menggambarkan realitas sosial-ekonomi yang dihadapi banyak masyarakat Indonesia: harga-harga yang terus melambung, kesenjangan yang semakin lebar, dan kebutuhan hidup yang terasa semakin sulit dijangkau.
1. Mimpi yang Harus Dibayar Mahal
“Sampai kapan mimpi-mimpi itu kita beli, sampai nanti sampai habis terjual harga diri.”
Bagi banyak orang, memiliki rumah, mengenyam pendidikan tinggi, atau sekadar hidup dengan layak menjadi impian yang sulit dicapai tanpa perjuangan ekstra. Harga properti terus naik, sementara upah tidak selalu sebanding dengan kenaikan tersebut. Di sisi lain, pendidikan berkualitas masih lebih mudah diakses oleh mereka yang memiliki kemampuan finansial. Hal ini membuat banyak orang terpaksa mencari jalan lain, dari berutang hingga bekerja lebih keras, demi mewujudkan impian yang seharusnya menjadi hak dasar setiap warga negara.
2. Ketimpangan yang Terus Melebar
“Melihat anak kecil mencuri mainan, yang harganya tak terjangkau oleh bapaknya yang maling.”
Kesenjangan ekonomi tetap menjadi tantangan besar di Indonesia. Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa distribusi kekayaan masih belum merata. Sementara sebagian kecil masyarakat menikmati kekayaan yang melimpah, masih banyak orang yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar mereka. Hal ini terlihat dari tingkat kemiskinan dan kesulitan akses terhadap barang serta jasa yang seharusnya bisa dinikmati oleh semua orang.
3. Masyarakat yang Didorong untuk Terus Konsumtif
“Segala produksi ada di sini, menggoda kita untuk memiliki. Hari-hari kita berisi hasutan, hingga kita tak tahu diri sendiri.”
Di era digital, dorongan untuk terus mengonsumsi semakin kuat. Iklan, media sosial, dan tren gaya hidup membuat banyak orang merasa harus memiliki barang tertentu agar bisa diterima di masyarakat. Akibatnya, tak sedikit yang terjerat dalam pola konsumsi berlebihan, bahkan sampai berutang demi memenuhi standar sosial yang diciptakan oleh lingkungan sekitar.
4. Harga Naik, Daya Beli Melemah
“Cari apa di sana pasti tersedia, asal uang di kantong cukup, itu tak ada soal.”
Kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi salah satu tantangan utama masyarakat saat ini. Dari bahan makanan hingga energi, semuanya mengalami peningkatan harga yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini membuat daya beli masyarakat menurun, terutama bagi mereka yang berada di kelas menengah ke bawah.
Kesimpulan: Apa yang Bisa Dilakukan?
Lagu Mimpi Yang Terbeli memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat dipaksa untuk “membeli” sesuatu yang seharusnya menjadi hak mereka: pendidikan, tempat tinggal, dan kehidupan yang layak. Situasi ini masih terjadi hingga hari ini, di tengah berbagai upaya pemerintah untuk mengatasi kesenjangan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Diperlukan kebijakan yang lebih berpihak kepada rakyat kecil, seperti akses pendidikan yang lebih terjangkau, kebijakan ekonomi yang mendukung stabilitas harga, serta perlindungan terhadap kelompok rentan. Selain itu, kesadaran kolektif juga dibutuhkan agar masyarakat tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang dapat memperburuk kondisi finansial mereka sendiri.
Pertanyaannya, sampai kapan masyarakat harus terus membeli mimpi? Apakah solusi yang ada saat ini cukup untuk memastikan bahwa mimpi tersebut bisa lebih mudah dijangkau oleh semua orang?
Penulis : Hamim